Ponorogo : Sampah Banjiri Lahan Pertanian


   Musim hujan belum berakhir walau kalender menunjukan bulan April. Jika banjir air menggenangi sawah petani resah tidak bisa panen atau rugi karena baru menanam bibit padi air menggenangi hingga mati bibit yang telah ditanam. Berbeda pada dua tahun telah dilalui setiap habis banjir air, ternyata air meninggalkan banjir sampah. Dua kali pekerjaan yang harus dipenuhi, pertama membersihkan sampah dari lahan pertanian kedua menanam bibit yang mati ketika terendam air lebih dari tiga hari.
Kelompok Tani desa Siman Ponorogo mengeluhkan tentang banyaknya sampah di persawahan. Sebutan Min karena dipanggil pak Min petani yang tinggal di jl Terate desa siman, "sudah sekitar dua tahunan ini sampah membanjiri lahan pertanian "sa niki sawahe banjir dobel, banjir banyu entek kare banjir sampah""
Forum Pemerhati Lingkungan Ponorogo, perilaku masyarakat dalam memberlakukan sampah ada beberapa tahapan. 
Pertama bagai mana individu masyarakat bisa merubah dari membuang sampah sembarangan ke tempat yg disediakan.
Kedua setelah mereka berubah baru bagaimana masyarakat mau memilah sampah.
Ketiga bagaimana peran masyarakat memberdayakan sampah melalui pemikiran, tenaga dan sebagian hartanya diinfaqkan pada persampahan.
Mochammad Hariyanto selaku Pemerhati Lingkungan  tak pernah berhenti selalu getol menyoroti permasalahan sampah. Ketauladanan harus terus diciptakan, jika lima tahun lalu Jum'at bersih dapat menjadi contoh di kalangan bawah maka ini tidak bakal terjadi hingga lahan petani penuh dengan sampah. Saya pernah survai di beberapa satker jum'at bersih tidak dilakukan.Hal tersebut tercermin di dibeberapa kantor dan sebagaian trotoar jalan utama rumput dan sampah berdampingan.
Share this article :

Post a Comment

Space Iklan

Space Iklan
 
Layout : Bambang Indrayana
Copyright © 2011. MUDA NEWS Online - All Rights Reserved
Redaksi MUDA Online Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
Proudly powered by Team KPI